My Life

Being a new marriage couple, masih merupakan hal yang fresh bagiku. Masih belum lagi habis 7 bulan menjalani hidup bersama, menyandang titel sebagai seorang “ISTRI”. Masih banyak hal yang harus dipelajari, tentang keluarga, tentang ibadah, tentang sakinah mawaddah warohmah. Terlebih kesibukan yang tak bisa juga dielakkan sebagai bentuk tanggung jawab.

Alhamdulillah, hanya itu yang terucap untuk setiap nikmat dari Yang Maha Satu, Yang Maha Menyatukan, memberikan warna baru dalam hidup kami.

Alhamdulillah, mendapatkan kepercayaan dan amanah, malaikat kecil yang mulai tumbuh di dalam tempat yang kokoh. Kami akan menjagamu sepenuh hati, tumbuhlah sehat dan kuat, wahai malaikat titipan ilahi… Insya Allah… Semoga hidupmu kelak dilimpahi keberkahan, dianugerahi kesehatan, nikmat iman dan islam selalu, dianugerahi kecerdasan dan ilmu agama. Tak habis doa kami untukmu, sayang…

Teruntuk suamiku tercinta, tak ada yang kupinta, selain bimbinganmu, uluran tanganmu, kekuatan genggaman mu. Terimakasih untuk warna ini, untuk sekaan pada setiap air mata yang mengalir, untuk pijatan lembut pada setiap lelahku di penghujung hari, untuk pengertian dan sikap manismu di setiap hari, untuk tawa canda yang kau lukiskan di hari-hari kita, untuk kekuatan yang kau hembuskan di setiap lelahku, untuk nafkah halal dari hasil keringatmu yang kau persembahkan untukku, untuk kesetiaanmu menemani dalam gejolak emosiku, untuk belaian lembut di setiap malam-malam mengantar tidurku, untuk setiap kesabaranmu meski kau letih, untuk setiap bantuanmu mengurus rumah kita disaat aku kerepotan, dan untuk keikhlasanmu atas segalanya. Semoga Allah selalu merahmatimu, menjaga jalanmu, dan mengasihimu selalu. Aamin…

Dialog

Dialogue

Assalamu’alaikum…

Wa’alaikum salam…

Ajarin aja aku sesuatu

Apa itu?

Apapun.. Ajarin aku satu hal tentang apapun..

Gimana kemudian.. Kamu minta aku mengajarkanmu sesuatu yang aku tidak mengerti tentang apa…

Kamu saat ini sedang dalam fase apa? Apa yang terjadi dengan hari-hari kamu? perasaan kamu? sampai apa yang terjadi dengan komunikasi kamu dengan Pemilik diri kita ini?

Sedang ada pertanyaan besar…..

ah, tapi aku selalu punya pertanyaan besar…..

Apa itu?

hmm… Aku cuma sedang berpikir.. Apakah selama ini apa yang kita kejar, kita lakukan, bermanfaat bagi orang banyak? Dan walaupun bermandaat bagi orang lain, apakah niat kita sudah lurus untuk itu? Apakah niat itu sudah mengalahkan ego kita yang selalu ingin mengambil manfaat bagi diri kita sendiri?

Apakah kita terlalu egois selama ini hanya memikirkan manfaat bagi diri kita sendiri, tidak untuk orang lain?

Apakah sudah murni hati kita dan niat kita mengalahkan segala kemunafikan yang mudah saja mengatakan semua yang kita lakukan adalah yang terbaik bagi semua

Atau kita memang selama ini abai tentang manfaat bagi semesta? Padahal manusia yang paling baik adalah yang memberikan manfaat bagi sesama. Tapi sejauh mana pemahaman kita tentang manfaat bagi semesta?

Tentang pertanyaan dan kegelisahan kamu, menurutku itu pertanyaan sebagian besar “pencari” selama hidupnya. Akupun sering bertanya begitu. Apalagi ketika dihadapkan pilihan yang melibatkan orang lain. itu akan menjadi tarik menarik, antara ego dan keinginan untuk ‘ikhlas’.

Bahkan term ‘ikhlas’ pun terkadang didorong oleh keinginan kita dianggap ‘ikhlas’.

Aku kasih satu contoh, misalnya sekarang aku adalah mahasiswa S2, sedang proses menuju sidang thesis. Aku lalu bertanya-tanya, apakah ijazahku bermanfaat bagi orang lain? Apakah aku melakukan ini memang untuk menjadi bermanfaat bagi banyak orang? Padahal selama ini keinginanku sekolah hanya untuk belajar. Dan aku bisa menalar bahwa dengan ilmu, aku bisa lebih bermanfaat. Tapi bagaimana dengan ijazah, bukannya itu salah satu bentuk ego meski mudah tersembunyi dibalik kata ‘hak’?? Pada akhirnya bermuara hanya pada sebuah pengakuan…. Lalu untuk apa????

Begitu juga misal dengan pekerjaan. Apakah selama bekerja, memang kita bekerja untuk kepentingan orang lain? Dengan niat memudahkan urusan orang lain?

Sebenernya aku tau jawabannya …๐Ÿ˜€ Yaitu kembali kepada niat kita, mudah-mudahan selalu lillahi ta’ala… Semua menjadi bernilai ibadah…..

Yahh….. akhir dari jawabannya,, Allah selalu melihat niat, dan sekeras apa kita berusaha… Kemudian tentang hasil dan ekses dari ‘jalan’ kita… biarkan itu sebagai bagian dari aksesoris dalam perjalanan…

Tapi…. Hal yang paling menarik bagi aku,, dari pertanyaan2 tadi, adalah, misalnya, aku sebagai seorang programmer. Ketika aku membuat aplikasi, aku akan membuat sebaik-baiknya semampu yang aku bisa… Aku bekerja dalam tim, sehingga aku harus perform dengan baik.. Jika berhasil, aku bisa mendapatkan kepercayaan,,, dan mendapat ilmu dan pengalaman baru dari apa yang dikerjakan. Imbasnya tentu aja banyak…

Tapi, above it all…. Seharusnya aku melakukan yang terbaik, bukan karena hal hal tersebut, tapi karena alasan yang jauh lebih sederhana, yaitu aplikasi yang aku buat akan memudahkan user dalam menyelesaikan masalahnya.. Yang berarti aku bisa bermanfaat bagi user-user tersebut.. Sesederhana itu………

Kamu betul-betul berusaha sempurna.. Mulai dari niat hingga manfaat dari hasil. Tidak hanya sampai di hasil,, lebih dari itu rupanya… Akulah yang harus belajar untuk seperti itu….

Tentang kegelisahan kamu, biar hal-hal kecil yang kamu khawatirkan itu, menjadi warna hidup kita di dunia. Tidak semuanya betul-betul sempurna, karena kesempurnaan hanya hak Dia Yang Maha Sempurna. Maha Suci Allah dari ketidaksempurnaan. Jawaban tentang lillahi ta’ala tadi sudah paling top.. ketidaksempurnaan yang kamu khawatirkan tadi menjadi pemanis dan pewarna. Bahkan setiap proses kegelisahan kita adalah bagian dari warna dan rasa hidup kita disini…….. Di dunia fana…..

Iya,, fana….. Bahkan kadang kita ga bisa melihat jelas isi hati dan pikiran kita sendiri.. Mungkin itu yang membuat : “Siapa mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya”… Karena nurani manusia, kalbu, diciptakan suci pada setiap bayi yang baru lahir…

Ya, sepakat…. Aku pun akhir-akhir ini merasakan… Fana…. Sesuatu yang kita anggap adalah ‘kebenaran’ dalam suatu waktu… bisa kemudian bergeser pada waktu yang lain.. tergantung maqom pengetahuan akan informasi baru dan kondisi kita saat itu…

Persis seperti teman aku bilang, setiap orang akan menerima dan mengkaji kebenaran sesuai pengetahuannya…

Untuk itu Allah mewajibkan kita berdo’a (shalat)… dan tidak ada shalat tanpa al Fatihah… Dan dalam al Fatihah, kita selalu meminta dituntun ke Sirathal Mustaqim.. Karena kebenaran versi manusia adalah sesuatu yang relatif.. Maka tidak ada jalan lain selain memohon tarikan, tuntunan dan campur tangan Dia Yang Maha Benar..

Subhanallah…

Subhanallah…

Tentang pencarian jati diri, adalah perjalanan yang tidak pernah berhenti.. Karena itu pencarian terhadap kebenaran.. perjalanan kita menuju Nya…

Sebagaimana untuk mendapat syurga, kita harus melalui mati.. maka untuk menuju Dia, tentu besar yang harus kita hadapi…

Bahkan perjalanan untuk mengenal Nya saja sudah merupakan prosesi kita seumur hidup.. karena keterbatasan kita tentang pengetahuan kebenaran tadi.. Apalagi perjalanan menuju Nya….

Thanks for being a nice place to share….

Ini juga semoga sebagai bahan pengingat aku, semoga mampu istiqomah… Mari belajar mencintai Rasulullah dengan mencintai sunnahnya… Semoga kemudian itu yang menjadikan kita dekat dengan Rasul kelak di hari akhir. Ketika berusaha mencintai seseorang maka kita akan berusaha menjadi seperti orang yang kita cintai..

Insya Allah….

Berikanlah aku telinga, maka akan kuberikan suara …. (Kahlil Gibran) <- harusnya di intro tadi…

Wassalamu’alaikum wr wb

Wa’alaikumussalam wr wb…

Terima Kasih…

Mungkin hanya sekejap mata
Atau sekerlingan pandang kita berjumpa
Lembaran kalender satu persatu berganti angka
Seperti pelajaran matematika si bocah cilik
Menutup sinar mentari setiap hari dlm kebersamaan

Kita adalah kepingan peta masa depan yg tersusun tak tentu arah
Setetes buih di derasnya lautan
Berharap menemukan jalan utk saling bertemu
Satu persatu rangkaian peta masa depan akan menyatu indah….

Apalah artinya hidup tanpa harapan
Tanpa impian, jiwa menjadi dahaga
Namun tak tau air mana yg harus direguk
Biarlah harapan ini tak hanya menjadi gelas kosong
Tetes demi tetes
Namun penuh dengan harapan tanpa batas

Kawan, sekarang kita telah menjadi pasukan perubahan
Berharap menjelma menjadi rajawali bersayap emas
Memberikan perlindungan bagi semesta
Tak butuh sanjungan dan pujian
Karena tanpa sanjungan pun rajawali akan tetap tinggi mengangkasa…..

Terinakasih utk semuanya…

Muslim adalah Pembelajar

Mulialah orang-orang yang selalu haus menuntut ilmu. Wanita maupun pria, tua maupun muda, semua wajib untuk terus belajar. Karena belajar adalah perjalanan, bukan tujuan. Tujuannya justru menjadi umat yang paling bermanfaat bagi alam semesta ini.
Seorang manusia menjadi sombong, ketika dia merasa paling tahu, karena sejatinya pembelajar, semakin memahami sebuah ilmu, semakin merasa bodoh dan tidak tau apa apa. Karena Allah lah sang pemilik ilmu yang sesungguhnya. Bayangkan, alam semesta ini, yang digali misteri-misterinya oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu, dari terciptanya alam semesta, makhluk hidup, fisika alam, matematika, Maha Besar Allah lah yang menciptakan segalanya. Bagaimana bisa kita menyombongkan ilmu, sementara yang kita kuasai hanya seujung kuku? Celakalah orang-orang yang berhenti belajar dalam hidupnya.
Namun sayangnya, kondisi ummat saat ini, terlalu banyak propaganda, pemerintah pun tak mampu membendung, anak anak kita dididik oleh televisi, oleh dunia hiburan, seolah hiburan adalah cara paling utama yg bisa mereka lakukan. Pada akhirnya, kembali kepada fungsi keluarga, ibu utamanya, sbg madrasah pertama seorang anak, untuk menanamkan konsep halal haram – yang perlahan dihapus oleh media – , menanamkan akhlak – yang perlahan dihapus oleh ftv dan sejenisnya – dan yg paling utama, menanamkan tauhid, ke jiwa anak anaknya, sehingga mereka mampu melindungi dirinya sendiri.
Budaya membaca kian pudar, diganti oleh menonton dan mendengarkan musik. Padahal, ayat pertama bagi umat muslim adalah “bacalah”. Kata kata : buku adalah jendela dunia, buku adalah gudang ilmu, perlahan digeser dengan : hiburan adalah sumber kebahagiaan. Padahal Islam mengajarkan, jika kita memahami kehidupan dunia ini, niscaya kita lebih banyak menangis daripada tertawa. Maasya Allah….
Dulu muslim berjaya di andalusia, juga di Indonesia. Banyak ilmuwan muslim yang meninggalkan jejak-jejak pondasi ilmu yang masih digunakan hingga sekarang, sebutlah Ibnu Taimiyah, Al Khawarizmi, Ibnu Khaldun, Subhanallah… Ilmu yang mereka gali, mereka tuliskan, mereka wariskan bagi kita, anak cucunya. Namun, siapa yang menyambut ilmu tersebut? Apakah negara dengan jumlah muslim mayoritas ini? Sayangnya bukan.
Islam adalah rahmatan lil ‘aalamin, rahmat bagi semesta, yang artinya, kita tak hanya harus mempelajari agama, Islam ditujukan untuk alam semesta. Bidang ilmu lain, yang kita lalaikan, justru menjadi kelemahan kita. Alhasil, banyak ketertinggalan kita di bidang keilmuan. Sebutlah teknologi, fisika, kimia, kedokteran, dll muslim menjadi minoritas, bahkan kehilangan taring untuk bersaing di dunia global.
Lalu apa yg bisa kita lakukan ? Hal paling utama adalah belajar utk mengejar ketertinggalan. Muslim juga seharusnya bisa menjadi bagian dlm pemerintahan, tentu dengan kualitas sumber daya manusia yang kompeten. Mempelajari berbagai bahasa juga baik untuk kita lakukan, jangan sampai bahasa menjadi kendala kita dlm mencari ilmu. Belajarlah ke negeri-negeri yang maju dlm keilmuannya, lalu kembalilah untuk kejayaan ummat, dan kemajuan peradaban manusia. Bagikan ilmu yang kita punya, karena ilmu adalah milik Allah. Semakin banyak ilmu yang kita bagikan, semakin banyak jariyah yang kita kumpulkan, semakin maju peradaban kita. Lalu menulislah, tinggalkan warisan ilmu melalui tulisan. Tulisanmu akan menjadi warisan yang mampu melintasi generasi. Dan atas segala kesulitan, kembalilah kepada Allah, karena matinya org yang menuntut ilmu adalah syahid. Insya Allah..

Hidup 24 Hari

candle

2014, May 12

24 hari dilalui dalam kebersamaan

Bukan waktu yang singkat untuk sebuah ujian

Namun bukan waktu yang lama untuk sebuah pertemuan

Galau, Layaknya pinta manusia yang tak pernah melihat dari sisi Tuhan-nya

 

Malam-malam yang dilewati

Menyusuri jalan-jalan hingga larut meski mencuri-curi waktu

Menanggalkan penat, kita berlari menuju keramaian

Meski jarang kedamaian dan keramaian dapat bersatu

Namun bersamamu kawan, tak peduli ramai atau sepi,

kedamaian ada di dlm imaji yang kau bawa dlm dirimu…

 

Sebagai sebuah hati yang penuh tanda tanya

Dimana tersimpan kotak yang disimpan dengan amat dalam

Jauh, hening, senyap, sejuk, terlindung, dan selalu dijaga

Seperti ada kehidupan didalam sana, yang merintih danย  memohon untuk tak ditinggalkan

Seperti ada permohonan akan sebuah mesin waktu menjadi nyata

Meski seringkali kenyataan tak semanis impian dan harapan

Kenyataan-kenyataan yang terlanjur terjadi,

Kita hanya manusia yang tak akan mampu menggulung lembaran takdir…

Lalu aku bertanya, bukankah bagi Dia, takdir ini adalah yang terindah?

Maka biarkanlah berjalan hingga lembaran terakhirnya terbuka dengan indah….

 

Takkan mampu seluruh kenangan kita gambarkan

Seperti lembaran takdir yang kita lukis ulang ke dalam dimensi manusia….

Tak mampu kita menyederhanakan takdir dan kenangan yang telah terjadi….

Takkan mampu sebait dua bait lagu mewakili apa yang telah dilalui

Karena lagu kita berjuta-juta, dimana ada ungkapan cinta dan kebersamaan

Maupun ujian yang harus terlewatkan….

Disitulah detak jantung dan hati bernyanyi…

Sekedar mencari tempat berlarinya hati ketika sepi dan sendiri menenggelamkan kita….

Lirik-lirik dan alunan nada cukuplah mewakili sebagian hati yang terbawa kesana…..

 

Seperti sebuah teriakan lepas kita di malam hari

MESIN WAKTU!!!!

Didepan lidah api yang menyala perkasa lalu perlahan meredup menjadi bara

Diiringi kedipan tiga lilin yang menari damai=

Yang memberi kehangatan dan kedamaian

perlahan menjadi abu, lalu dilupakan

Namun alunan lagu yang kita dendangkan di malam sunyi

Bumi yang kita pijak dan langit yang menaungi, mendengarnya

Masih Bumi dan Langit yang sama dari ribuan tahun yang lalu

Yang telah mendengar jutaan kata dan harapan yang teruntai….

Dari mulut-mulut manusia yang lemah dan penuh kesah…

Tanpa ragu kita turut meramaikan langit dengan harapan-harapan kita

Berharap untuk bertemu lagi di masa depan

Berharap pintu-pintu akan terbuka untuk pertemuan yang lebih murni..

 

Biarlah tulisan ini terukir abadi disini, mewakili kenangan yang mungkin di benak

Akan terhapus oleh memory-memory terkini…

Dan kotak tersebut akan usang oleh debu debu impian-impian baru…

Lalu tulisan inilah yang akan menjadi pengingat semuanya

Membersihkan kembali kotak itu dan membukanya perlahan…

Hingga isi kotak itu menyinari segenap relung hati…

Hati yang terbawa oleh kenangan indah…..

Menjelma menjadi mesin waktu yang selama ini diimpi-impikan…

Meski tak sampai kita menuju 3 tahun yang lalu

Namun akan membawa kita kembali ke dalam hidup 24 hari yang bahagia….

 

Dan jika suatu ketika engkau mengingatku, sebutlah namaku saja, lirih di dalam sunyi, bawalah dalam do’amu

Karena seandainya saja kau tau,ย  itu lah saat aku tengah merindukanmu juga….

Dan kita bernaung di langit yang sama…….

 

—Kenangan Prajabatan Kelas B—

—Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia,2014—

Thanks God, for this life

Image

Selangkah demi selangkah, Engkau seperti mendengar do’a-do’aku yang meski tak semuanya kuraih saat ini.. Tetapi kebahagiaan, atas apa yang kudapatkan, apa yang kuketahui, manusia-manusia hebat yang Kau pertemukan, menjadi bonus yang tak pernah kuperkirakan sebelumnya..

Oh Tuhan, Kuasamu sungguh mulia.. Dari Dzat-Mu kau ciptakan manusia, Kau ciptakan alam semesta, Kau ciptakan sinerginya, Kau ciptakan juga hidup di setiap benak manusia. Hingga tak lagi mampu rasanya pikiran ini untuk mengindera semua kuasaMu Wahai yang Maha Kuasa..

Memang, tak semua yang kita inginkan akan langsung terwujud. Tetapi, bahagiaku menyaksikan manusia-manusia hebat disekitarku mendapatkan sesuatu yang sangat kuharapkan dari dahulu, dan mungkin mereka pun lebih keras mengharapkannya dariku.. Tuhan memang tak pernah salah…๐Ÿ™‚

Robbi habli minassholihiin…..

Meja Kerja, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 27 maret 2014