Aku Bicara pada TUHAN

Tuhan,,
bukakan mataku lagi,,
aku hambamu Tuhan,,
aku menyesal,,
aku banyak dosa,,Tuhan

kumohon,,
jauhkan aku,,
dari dunia yg telah kotor ini,,
berat aku bertahan disini,,
jarang kutemui hati nurani disini,,
jarang kulihat cahaya lagi,,
karna dunia telah suram,,
biarkan aku kembali,,
kuingin bermanja-manja padaMU
kuingin selalu bersamaMu..
seperti biasanya,,
kita selalu bersama Tuhan,,
Kau selalu menjagaku,,menolongku
Kau tempatku pulang,,dari duniaku
Kau yang menjemputku dari aktivitasku..
aku rindu itu Tuhan…

Siapkah aku menghadapi ujianMu
Aku tau itu yang Kau pilihkan
karna Kau yakin ku bisa
tapi,,
ku tak bisa Tuhan
TanpaMu,,
ku tak bisa..

kembalikan aku Tuhan,,
ke dalam jiwa yang kecil itu,,
yang selalu dekat denganMu
yang slalu melihatMu..

kurindu Engkau Tuhan..
kurindu pelukMu…

2 thoughts on “Aku Bicara pada TUHAN

  1. Irama hati akan penyesalan
    Selembut suara panggilan bidadari surga
    Tiada insan yang tak merindukannya
    Inginnya kembali kepada kebenaran
    Gerakan kelopak mata yang menutup perlahan
    Halusnya aliran air mata penyesalan
    Fitrah sebagai manusia akan kesadarannya
    Adalah sesuatu yang tak luput dari kesalahan
    Ribuan MALAIKAT turun memohon ampun untuknya

  2. sesekali dalam kesadarannya, seorang manusia akan merasakan hal yang sama, jenuh dengan kekeruhan dunia, yang makin lama memang makin keruh…
    ingin rasanya selalu ingin menyendiri, mencoba mengakrabkan diri dengan kesunyian bersamaNya…
    Selamanya…
    namun, itu berat, itu sulit, itu hampir mustahil,
    jika seluruh detik waktu dalam kesendirian bersamaNya…..
    karena itu bukanlah esensi hidup,
    karena itulah lika-liku hidup,
    dan kita sedang menjalani hidup,
    tak bisa lepas dari realita hidup,
    namun, semua itu pasti akan tiba,
    sampai waktunya,
    sampai denyut nadi terhenti,
    sampai tiada lagi nafas yang berhembus,
    sampai goresan tinta kehidupan terhenti di titik,
    titik dari kisah perjalanan kehidupan,
    namun, siapkah kita menghadapinya,
    membawa bekal untuk menghadapNya,
    hingga kita mampu memandangNya,
    dan Dia tidak mempalingkan wajahNya

    @Tio : lam kenal, keknya sering liat..hihihi…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s