“duri dan kepulan hitam menuju kerling cahaya”

Kerlingan hidup,,berkedip padaku
seperti air hujan yang bicara dengan tetesnya
seperti embun yang berbisik dengan rintihnya
aku disini menatap
pilu dan iba
pada tanah tempat pijakku..

siapa yang dapat kulihat
sepanjang jalan ini penuh sesak
namun mereka menari di dataran itu
sambil berlalu
kubuka jubah ini

hingga tanpa helai tersisa
kesedihan demi kepedihan
tak tampak juga bagi penari-penari itu
dengan lawas seolah mereka menghiburku

tarian sampah, kataku..
berjalanlah ke jalan ini, ajakku
enggan berat hati mereka anggukkan topi indah mereka
karena di jalan itu
sepah menjadi pengobat dahaga
dan angin menjadi pengiring lapar..
kembali mereka menari..

kulihat kembali kerlingan itu lagi..
yang kilaunya hingga ke ubun ubun
disitulah kuisi lagi
kendi ku yang kosong
entah mengering,,tercecer,,atau menjadi obat dahaga..

penuh kembali kendi ku
ku terus melangkah
menuju kerlingan itu..
biarlah,,biar…
duri menusukku dan sepah membanjiriku
hingga tubuhku terpisah dari jiwa…
tak kusesali
karena duri dan sepah itu
turut membawa kepulan hitam..
keluar anggun dari langkahku

saat cahaya mendekat,,
kuambil duri itu
kuhabisi kepulan itu
tiba aku di kerlingan
tanpa membawa kepulan hitam..

Retno Ayu Widiyaningrum

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s