Ikhlas

Terima kasih pak, terima kasih bu, sambil tersenyum. Sepaket ekspresi keikhlasan yang mungkin sudah jarang kita lihat lagi….

Awalnya, hanya berpikir bahwa pada kenyataannya manusia adalah makhluk sosial, semua orang membutuhkan keberadaan orang lain dalam hidupnya. Membutuhkan keluarga, teman-teman, sahabat, pendamping hidup dan sebagainya. Otomatis, pelajaran memberi dan menerima pun dimulai disini, ketika kita mulai mengenal orang lain. Ketika kecil dulu, keluarga adalah rumah pertama bagi kita. Di masa bayi, kita banyak sekali menerima pertolongan dari ibu, ayah serta kakak kita, meskipun kita tidak memintanya. Subhanalloh. Keikhlasan yang sangat tinggi tertanam saat itu.

Bertumbuhlah kita mulai besar, dan mulai bisa mengurus sendiri kebutuhan diri kita. Terkadang, “Kakak, tolong ambil buku ku donk..” Lalu dijawab “Ambil aja sendiri” . Memang, saat itu kita dituntut untuk mulai bisa mandiri. Tapi hati-hatilah, sisi lain dari dialog tersebut adalah, “Ah, kakak sekarang gak mau bantuin aku lagi, awas ya nanti kalo kakak yang perlu, ga aku bantuin”. Hmmmmmmmm… Got the point?

Hal-hal tentang selfish, individualis, mulai tertanam benihnya, dan tragisnya di dalam keluarga. Beranjak dewasa, seseorang akan mulai bisa berpikir sendiri, memilah yang baik dan yang buruk. Kultur masyarakat yang saya perhatikan di Indonesia, banyak anak-anak yang berpikir “aku harus nurut sama ayah ibu” , membuat anak-anak remaja justru terbelit di dalam pikiran kedua orang tuanya. Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, pun dengan ayah ibu. Akhirnya pasti bisa ditebak, si anak akan turun temurun mengikuti “contoh”, bahkan jika tidak didukung lingkungan yang memaksanya untuk berpikir, maka dia akan melakukan apapun yang dicontohkan tadi kepadanya, tanpa berpikir baik/tidak nya serta perlu/tidaknya.

Dan yang menjadi permasalahan lagi, kedewasaan pun tidak ada hukum pastinya dalam hubungannya dengan usia.

Oleh karena itu di dalam Islam seorang muslim diwajibkan untuk menuntut ilmu, supaya bisa memimpin hidupnya sendiri karena setiap manusia adalah khalifah bagi dirinya masing-masing.

Begitu juga dengan keikhlasan, ilmu ikhlas bukanlah sesuatu yang mudah untuk dipelajari, apalagi bagi orang-orang yang enggan berpikir. Jika ketika ada teman ataupun keluarga yang meminta bantuan kepada kita, lalu muncul di dalam benak kita perasaan-perasaan seperti merasa dimanfaatkan, maka tanyalah lagi kepada diri kita, sesibuk itukah kita, sebanyak apakah pikiran kita, hingga lupa akan arti keikhlasan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s