Buku dan Peradaban Manusia

Peran buku dalam perkembangan peradaban memang dinilai sangat penting. Tak lepas dari sejarah aksara-aksara yunani kuno, arab, hingga latin, bersyukur kita sekarang hidup di zaman yang mudah untuk memproduksi buku, maupun teks-teks lain. Di zaman nenek moyang kita dulu, papyrus, pelepah kurma, ditulis dengan batu, arang, dan bahan-bahan alam, itulah perjalanan awal buku hingga bisa seperti sekarang. Didukung oleh Revolusi Industri, penemuan mesin uap, yang kemudian menyusul mesin-mesin lain yang mempermudah kegiatan manusia, hingga mesin cetak.

Bagi sekelompok orang, buku adalah seperti sahabat hidup. Dari buku kita dapat menggali apa-apa yang kita ingin tau. Jika boleh berkata-kata dengan sedikit puitis, membaca buku adalah seperti menyelam ke dalam belukar yang ada di dalam rimba kehidupan yang mungkin masih begitu kusut bagi sebagian orang dan bahkan terlihat dan terasa abstrak bagi sebagian yang lain. Banyak serangga, tanaman, ulat, bunga, daun yang akan kita temui, dan banyak dari mereka yang baru pertama kita temui. Terkadang kita pun tak cukup memiliki kesadaran dalam diri kita, sesuatu yang kita tahu kita menyukainya di dalam diri, namun tak pernah bisa keluar, karena terganjal wawasan kita yang sempit, hingga tak mampu mengungkapkannya dengan media komunikasi apapun. Dari bukulah kita bisa menemukan mutiara tersebut, yang sebenarnya seperti mutiara besar dengan sedikit soak di tubuhnya, yang mana pecahan tersebut ada di dalam diri kita. Bayangkan, seperti menemukan sesuatu yang dari dahulu kita selalu berpikir,, apa yaaaaa…. atau ‘iya saya suka topik itu, tapi saya nggak tau lagi…’ seperti menemukan celah kecil keluar dari ketidaktahuan, yang salah satu jalan dari situ adalah menuju keingintahuan yang lebih kuat.. Bahkan, wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Rasulullah SAW adalah “iqra” atau “bacalah”.

Kepuasan manusia akan ilmu pengetahuan adalah saat akal pikiran kita menemukan kata paham. Luar biasa rasanya seperti mendapat sesuatu yang baru, tercerahkan secara pikiran. Namun dikala itu juga, pikiran manusia yang memang sifatnya selalu aktif, akan terus mencari hal-hal yang belum diketahuinya. Begitu lah ilmu pengetahuan membawa manusia, hingga ke peradaban seperti sekarang. Berbekal ilmu pengetahuan, usaha, motivasi dan tentunya kesabaran. Seperti dikatakan oleh potongan cerita klasik, kalau saja Thomas Alfa Edison tidak memiliki kesabaran dalam usahanya, penelitiannya, eksperimennya, maka belum tentu kita dapat merasakan terangnya lampu pijar saat ini.

Kita tak akan tau seperti apa nanti jadinya diri kita ini di 1 tahun, 5 tahun bahkan 10 tahun mendatang. Thomas Alfa Edison pun di usia mudanya, belum tentu ia telah terbayang, bahwa namanya akan ada di buku-buku sejarah, fisika, dan lain-lain, bahkan hingga ribuan tahun setelah kematiannya. Marilah terus menggali rasa haus ilmu pengetahuan di dalam diri kita. Berilah kesempatan bagi diri kita mengenal dunia, meski hanya lewat buku. Biarkan pikiran kita menjadi terbuka dengan banyaknya hal-hal yang belum tentu dapat kita temukan dengan mata kita, namun dapat kita temukan dalam buku-buku yang kita baca. Maksimalkan potensi yang ada di dalam diri kita, karena kitalah nanti yang akan menjadi penegak pilar-pilar akademis, ekonomi, politik, sosial, dan pilar-pilar lain yang nilainya takkan runtuh hingga runtuhnya peradaban besar dunia ini. Insya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s