Penelitian Sebagai Rantai Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Research

Penelitian sering kali menjadi kata yang paling sangar bagi banyak orang. Seolah-olah seorang peneliti adalah sesosok manusia berkacamata tebal, rambut berantakan, tempat kerja berantakan dan penuh dengan buku-buku, akrab dengan tabung reaksi, monitor grafik dan sebagainya.

Sejatinya, pengetahuan terus berkembang dari masa ke masa. Seperti ketika pertama kali mesin uap, telepon, lampu pijar ditemukan. Berlanjut hingga saat ini, teknologi ada di genggaman setiap orang, di setiap sisi kehidupan dan setiap waktu. Hasil penemuan yang dilalui dari berbagai macam eksperimen dalam serangkaian penelitian, kini bermanfaat bagi kita orang-orang yang bahkan tidak pernah mengenal penemunya siapa, hanya tau namanya dari buku-buku.

Berangkat dari sanalah, hendaknya budaya penelitian terus digalakkan dan ditanamkan ke jiwa kita, dan lalu kita tularkan ke adik-adik kita, anak-anak kita. Setiap peneliti, penemu, tentu berharap temuannya akan bemanfaat bagi siapapun, dan bahkan dapat terus dikembangkan hingga akhir waktu. Dan akan menjadi jariyah lah bagi si penemu tadi. Hal ini berkaitan dengan publikasi.

Banyak universitas maupun lembaga penelitian yang dengan sengaja tidak mempublikasikan hasil penelitiannya, dengan alasan takut ditiru, ataupun malu dengan kualitas penelitiannya yang masih awam. Coba kita bandingkan dengan penelitian zaman dulu.

Bayangkan, jika dulu penemuan telepon tidak dipublikasikan, belum tentu kita bisa menggengam telepon seluler saat ini. Jika dulu lampu pijar tidak ditemukan, belum tentu sekarang kita bisa menikmati cahaya di kegelapan malam. Jika kita gunakan analogi dengan universitas tadi, maka perkembangan teknologi bisa-bisa tersendat secara signifikan.

Logikanya lagi, misalkan di sebuah universitas yang hasil penelitiannya tidak dipublikasikan, maka misalkan di tahun 2010, mahasiswa A meneliti tentang topik ABC. Karena tidak dipublikasikan, maka pada tahun berikutnya bisa saja mahasiswa B juga meneliti tentang topik ABC. Lain halnya jika penemuan tersebut dipublikasikan, mahasiswa B bisa jadi melakukan penelitian tentang korelasi ABC dengan DEF. Dalam beberapa tahun, bisa dibayangkan perbedaannya antara penelitian yang dipublikasikan dengan yang tidak dipublikasikan.

Kaitannya dengan plagiasi, bukankah jika penelitian tidak dipublikasikan, lebih besar kemungkinannya akan terjadi plagiasi? Penelitian yang sama dilakukan kembali?

Sebagai konsekuensinya, kuncinya ada pada lembaga yang meluluskan atau tidaknya sebuah proposal penelitian. Tentunya lembaga tersebut harus lebih mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan untuk mencegah adanya penelitian yang sama dengan penelitian yang pernah dilakukan. Solusinya jika terjadi penelitian yang mengulang penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, maka lebih baik penelitian tersebut diarahkan untuk pengembangan penelitian sebelumnya. Sehingga rantai perkembangan ilmu pengetahuan akan terus bergerak maju.

4 thoughts on “Penelitian Sebagai Rantai Perkembangan Ilmu Pengetahuan

  1. Pingback: Penelitian Sebagai Rantai Perkembangan Ilmu Pengetahuan | nurulaini456

  2. Pingback: Research In Chain Development Studies | nurulaini456

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s