Hidup dan Tumpukan Pakaian

Pernahkah kau bayangkan hidup adalah seperti tumpukan pakaian yang menunggu untuk dilipat?

Bayangkanlah kau berada di sebuah ruangan besar dengan beberapa orang lainnya di dalam ruangan. Masing masing duduk di lantai dengan tumpukan pakaian yang masih berantakan dibelakangnya dan tumpukan pakaian rapih di hadapannya. Tugas masing-masing orang ini adalah melipat semua pakaian yang ada di tumpukan belakangnya menjadi rapih, lalu meletakkannya di tumpukan di hadapannya. Hanya satu kesempatan untuk melipat setiap satu pakaian. Kau tak boleh mengulangnya kembali.

Ruangan itulah rumahmu, dan orang-orang itulah keluargamu. Setiap orang memiliki tumpukan pakaian yang berbeda. Nun di luar sana, di dalam rumah rumah lain, keluarga lain pun sama denganmu, melipat pakaian dan menumpuknya dengan rapih di rumah-rumah mereka.

Sekarang lihatlah dirimu. Yang dengan giat melipat pakaian dari tumpukan belakang ke tumpukan depan. Sesekali mengeluh lelah, sesekali menghapus peluh. Dan suatu ketika, kau tak bisa melipat dengan sempurna meskipun kau telah berusaha maksimal. Itulah takdir.

Mundurlah beberapa langkah, dan lihat tumpukan pakaian di hadapanmu. Lihatlah disana tumpukan yang sudah berisi ribuan pakaian yang berhasil kau lipat. Lihatlah, carilah satu pakaian yang tidak terlihat sempurna disana. Satu ketidaksempurnaan tidak akan mengubah keindahanmu jika kau menghadapinya dengan positif.

Maksudnya begini, ketika lipatan itu tidak sempurna, apa yang kau lakukan? Apakah kau akan berpikir untuk memperbaiki nya di lipatan berikutnya yang akan kau temui? Ataukah engkau akan merana memikirkan lipatan tersebut, sembari tanganmu terus melipat pakaian yang lain? Alhasil tidak hanya satu pakaian yang terlipat dengan buruk, namun bisa jadi dua, tiga, sepuluh bahkan ratusan, sampai engkau menyadari kekeliruanmu dalam memaknai satu episode di hidupmu.

Namun jika kau berpikir positif dan berniat memperbaikinya di lipatan berikutnya, lanjutkanlah. Setelah beberapa waktu, mundurlah sedikit untuk mengamati hasil lipatanmu. Mungkin kau akan menemukan satu lipatan yang buruk di tumpukan pakaianmu. Namun jika dilihat secara keseluruhan, hal itu tidak akan merusak semua tumpukan pakaianmu.

Begitulah seharusnya memaknai hidup. Sesekali memang ada bagian yang tidak sesuai keinginan kita meskipun kita telah berusaha keras, itulah takdir. Layaknya kesempatanmu yang hanya satu kali untuk melipat satu pakaian, takdir pun hanya akan kau lewati sekali. Pilihanmu adalah pada tumpukan pakaian berikutnya yang harus kau lipat, episode hidup berikutnya yang harus kau jalani. Akankah kau terpaku pada kesedihan akan masa lalu sehingga melewatkan beberapa episode hidupmu menjadi lipatan-lipatan buruk? Ataukah engkau akan menyadari takdirmu, dan  bersegera memperbaikinya sebelum semua tumpukan pakaian di belakangmu telah habis?

Namun jika belum juga kau sadari takdirmu bahkan hingga tumpukan pakaian terakhirmu, sadarilah, berapa episode hidup yang kau abaikan demi takdir yang telah berlalu dan tak akan mampu kau ubah kembali…………..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s