Dialog

Dialogue

Assalamu’alaikum…

Wa’alaikum salam…

Ajarin aja aku sesuatu

Apa itu?

Apapun.. Ajarin aku satu hal tentang apapun..

Gimana kemudian.. Kamu minta aku mengajarkanmu sesuatu yang aku tidak mengerti tentang apa…

Kamu saat ini sedang dalam fase apa? Apa yang terjadi dengan hari-hari kamu? perasaan kamu? sampai apa yang terjadi dengan komunikasi kamu dengan Pemilik diri kita ini?

Sedang ada pertanyaan besar…..

ah, tapi aku selalu punya pertanyaan besar…..

Apa itu?

hmm… Aku cuma sedang berpikir.. Apakah selama ini apa yang kita kejar, kita lakukan, bermanfaat bagi orang banyak? Dan walaupun bermandaat bagi orang lain, apakah niat kita sudah lurus untuk itu? Apakah niat itu sudah mengalahkan ego kita yang selalu ingin mengambil manfaat bagi diri kita sendiri?

Apakah kita terlalu egois selama ini hanya memikirkan manfaat bagi diri kita sendiri, tidak untuk orang lain?

Apakah sudah murni hati kita dan niat kita mengalahkan segala kemunafikan yang mudah saja mengatakan semua yang kita lakukan adalah yang terbaik bagi semua

Atau kita memang selama ini abai tentang manfaat bagi semesta? Padahal manusia yang paling baik adalah yang memberikan manfaat bagi sesama. Tapi sejauh mana pemahaman kita tentang manfaat bagi semesta?

Tentang pertanyaan dan kegelisahan kamu, menurutku itu pertanyaan sebagian besar “pencari” selama hidupnya. Akupun sering bertanya begitu. Apalagi ketika dihadapkan pilihan yang melibatkan orang lain. itu akan menjadi tarik menarik, antara ego dan keinginan untuk ‘ikhlas’.

Bahkan term ‘ikhlas’ pun terkadang didorong oleh keinginan kita dianggap ‘ikhlas’.

Aku kasih satu contoh, misalnya sekarang aku adalah mahasiswa S2, sedang proses menuju sidang thesis. Aku lalu bertanya-tanya, apakah ijazahku bermanfaat bagi orang lain? Apakah aku melakukan ini memang untuk menjadi bermanfaat bagi banyak orang? Padahal selama ini keinginanku sekolah hanya untuk belajar. Dan aku bisa menalar bahwa dengan ilmu, aku bisa lebih bermanfaat. Tapi bagaimana dengan ijazah, bukannya itu salah satu bentuk ego meski mudah tersembunyi dibalik kata ‘hak’?? Pada akhirnya bermuara hanya pada sebuah pengakuan…. Lalu untuk apa????

Begitu juga misal dengan pekerjaan. Apakah selama bekerja, memang kita bekerja untuk kepentingan orang lain? Dengan niat memudahkan urusan orang lain?

Sebenernya aku tau jawabannya …😀 Yaitu kembali kepada niat kita, mudah-mudahan selalu lillahi ta’ala… Semua menjadi bernilai ibadah…..

Yahh….. akhir dari jawabannya,, Allah selalu melihat niat, dan sekeras apa kita berusaha… Kemudian tentang hasil dan ekses dari ‘jalan’ kita… biarkan itu sebagai bagian dari aksesoris dalam perjalanan…

Tapi…. Hal yang paling menarik bagi aku,, dari pertanyaan2 tadi, adalah, misalnya, aku sebagai seorang programmer. Ketika aku membuat aplikasi, aku akan membuat sebaik-baiknya semampu yang aku bisa… Aku bekerja dalam tim, sehingga aku harus perform dengan baik.. Jika berhasil, aku bisa mendapatkan kepercayaan,,, dan mendapat ilmu dan pengalaman baru dari apa yang dikerjakan. Imbasnya tentu aja banyak…

Tapi, above it all…. Seharusnya aku melakukan yang terbaik, bukan karena hal hal tersebut, tapi karena alasan yang jauh lebih sederhana, yaitu aplikasi yang aku buat akan memudahkan user dalam menyelesaikan masalahnya.. Yang berarti aku bisa bermanfaat bagi user-user tersebut.. Sesederhana itu………

Kamu betul-betul berusaha sempurna.. Mulai dari niat hingga manfaat dari hasil. Tidak hanya sampai di hasil,, lebih dari itu rupanya… Akulah yang harus belajar untuk seperti itu….

Tentang kegelisahan kamu, biar hal-hal kecil yang kamu khawatirkan itu, menjadi warna hidup kita di dunia. Tidak semuanya betul-betul sempurna, karena kesempurnaan hanya hak Dia Yang Maha Sempurna. Maha Suci Allah dari ketidaksempurnaan. Jawaban tentang lillahi ta’ala tadi sudah paling top.. ketidaksempurnaan yang kamu khawatirkan tadi menjadi pemanis dan pewarna. Bahkan setiap proses kegelisahan kita adalah bagian dari warna dan rasa hidup kita disini…….. Di dunia fana…..

Iya,, fana….. Bahkan kadang kita ga bisa melihat jelas isi hati dan pikiran kita sendiri.. Mungkin itu yang membuat : “Siapa mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya”… Karena nurani manusia, kalbu, diciptakan suci pada setiap bayi yang baru lahir…

Ya, sepakat…. Aku pun akhir-akhir ini merasakan… Fana…. Sesuatu yang kita anggap adalah ‘kebenaran’ dalam suatu waktu… bisa kemudian bergeser pada waktu yang lain.. tergantung maqom pengetahuan akan informasi baru dan kondisi kita saat itu…

Persis seperti teman aku bilang, setiap orang akan menerima dan mengkaji kebenaran sesuai pengetahuannya…

Untuk itu Allah mewajibkan kita berdo’a (shalat)… dan tidak ada shalat tanpa al Fatihah… Dan dalam al Fatihah, kita selalu meminta dituntun ke Sirathal Mustaqim.. Karena kebenaran versi manusia adalah sesuatu yang relatif.. Maka tidak ada jalan lain selain memohon tarikan, tuntunan dan campur tangan Dia Yang Maha Benar..

Subhanallah…

Subhanallah…

Tentang pencarian jati diri, adalah perjalanan yang tidak pernah berhenti.. Karena itu pencarian terhadap kebenaran.. perjalanan kita menuju Nya…

Sebagaimana untuk mendapat syurga, kita harus melalui mati.. maka untuk menuju Dia, tentu besar yang harus kita hadapi…

Bahkan perjalanan untuk mengenal Nya saja sudah merupakan prosesi kita seumur hidup.. karena keterbatasan kita tentang pengetahuan kebenaran tadi.. Apalagi perjalanan menuju Nya….

Thanks for being a nice place to share….

Ini juga semoga sebagai bahan pengingat aku, semoga mampu istiqomah… Mari belajar mencintai Rasulullah dengan mencintai sunnahnya… Semoga kemudian itu yang menjadikan kita dekat dengan Rasul kelak di hari akhir. Ketika berusaha mencintai seseorang maka kita akan berusaha menjadi seperti orang yang kita cintai..

Insya Allah….

Berikanlah aku telinga, maka akan kuberikan suara …. (Kahlil Gibran) <- harusnya di intro tadi…

Wassalamu’alaikum wr wb

Wa’alaikumussalam wr wb…

One thought on “Dialog

  1. Sangat Bagus artikel yang ditulis diatas, saya sangat setuju dengan pernyataan bahwa kita hidup untuk membahagian orang lain, tentu saya seperti anda memikirkan hal seperti ini, seberapa berguna kah kita untuk hidup orang lain? pada saat sekarang ini saya sedang dalam masa yang benar benar menjadi telur didalam baskom yang dimasak, apakah akan menjadi telur rebus yang akan di nikmati orang lain atau menjadi telur busuk yang di jauhi orang lain?? sedangkan idealis kita dalam sesuatu dipatahkan dengan keadaan lingkungan yang tidak mendukung untuk kita berguna bagi orang banyak… mudah mudahan kita diberikan hikmah dari semua ini oleh Allah SWT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s